Sabtu, 06 Juni 2009

Proposal Penelitian Pengaruh Kompres Dingin dengan Penurunan nyeri

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Nyeri adalah suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya ( Tamsuri, 2007 )

Nyeri adalah rasa inderawi dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan baik secara aktual maupun potensial, atau menggambarkan keadaan kerusakan seperti tersebut diatas (Corwin, 2007).

Menurut Tanra (Tahun 2007), Telah Dilaporkan, bahwa jumlah penderita mengalami pembedahan di Amerika Serikat sekitar 25 juta orang pertahun. Dari jumlah ini, mayoritas mereka masih mengalami penderitaan nyeri pasca bedah karena pengelolaannya yang belum adekuat. Pengelolaan nyeri pasca bedah, bukan saja merupakan upaya mengurangi penderitaan klien, tetapi juga meningkatkan kualitas hidupnya. Telah terbukti bahwa tanpa pengelolaan nyeri pasca bedah yang adekuat penderita akan mengalami gangguan fisiologis maupun psikologis yang pada gilirannya secara bermakna meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.

Berdasarkan data yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar pada ruang perawatan Baji Kamase 1 terdapat 10 penyakit terbesar yang mengalami pembedahan pada Tahun 2007 yaitu : T. Colli, Katarak, faraktur, Hernia, Dyspepsia, Ca Mammae, T Mammae, Appendisitis, C Cerebris, Struma.

Salah satu tindakan pengobatan nyeri tanpa obat untuk bisa membantu mengurangi nyeri setelah operasi adalah diberikan kompres dingin pada area operasi.Terapi es dapat menurunkan prostaglandin,dengan menghambat proses inflamasi (Lukman, 2008).

Menurut Tamsuri, 2007 Stimulasi kulit dalam hal ini pemberian kompres dingin dipercaya dapat meningkatkan pelepasan endorfin yang memblok transmisi stimulus nyeri dan juga menstimulasi serabut saraf berdiameter besar A-Beta sehingga menurunkan transmisi implus nyeri melalui serabut kecil A-delta dan serabut saraf C.

Banyaknya keuntungan dari penggunaan kompres dingin pada pasien post operasi, menyebabkan perlunya pengkajian lebih lanjut tentang kompres dingin pada pasien. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh kompres dingin terhadap penurunan sensasi nyeri pada pasien post operasi .

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan karena kompleksnya masalah yang berkaitan dengan pengaruh kompres dingin terhadap penurunan rasa nyeri pada pasien post operasi, maka masalah dirumuskan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut : “ Apakah ada pengaruh kompres dingin terhadap penurunan sensasi nyeri pada pasien post operasi Ruang Perawatan Bedah RSUD Labuang Baji Makassar tahun 2009 “.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh kompres dingin terhadap penurunan sensasi nyeri pada pasien post operasi , Ruang Perawatan Bedah RSUD Labuang Baji Makassar Tahun 2009.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat nyeri pada pasien post operasi sebelum diberikan kompres dingin (pre test) pada pasien post operasi, Ruang perawatan Bedah RSUD Labuang Baji Makassar

b. Diketahuinya tingkat nyeri pada pasien post operasi setelah diberikan kompres dingin (post test) pada pasien post operasi, Ruang Perawatan Bedah RSUD Labuang Baji Makassar

c. Diketahuinya pengaruh kompres dingin terhadap penurunan sensasi nyeri pada pasien post operasi Ruang Perawatn Bedah RSUD Labuang Baji Makassar

D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Institusi

Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pihak Rumah Sakit untuk menjadi bahan pertimbangan dalam membantu kesembuhan pasien post operasi .

  1. Manfaat Ilmiah

Diharapkan dapat menjadi bahan pembanding dan menjadi sumber informasi bagi penelitian selanjutnya tentang manfaat kompres dingin.

  1. Manfaat Praktis

Menjadi pengalaman berharga bagi penulis dan menambah pengetahuan peneliti tentang kompres dingin bagi pasien post operasi .

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Nyeri

1. Defenisi Nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang actual dan potensial.Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang-orang dibanding suatu penyakit manapun (Brunner dan Suddarth, 2002).

Nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri akut dan nyeri kronik, nyeri akut biasanya berlangsung secara singkat misalnya nyeri pada patah tulang atau nyeri pada pembedahan abdomen. Pasien yang mengalami nyeri akut biasanya menunjukan gejala-gejala antara lain : respirasi meningkat, kecepatan jantug dan tekanan darah meningkat dan kalor. Respon seseorang terhadap nyeri bervariasi, ada yang sakit, nyeri kronik berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama dan pasien sulit mengingat sejak kapan pasien mulai merasakan. (Long C.B, 1996)

Nyeri juga dapat dinyatakan sebagai nyeri somatogenik atau psikogenik. Nyeri somatogenik merupakan nyeri secara fisik, sedangkan nyeri psikogenik merupakan nyeri psikis atau mental (Priharjo R, 2002).

Defenisi keperawatan tentang nyeri adalah apapun yang menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada kapanpun individu mengatakannya. Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata. Defenisi ini didasarkan pada dua pokok penting, pertama, perawat percaya kepada pasien saat mereka menunjukan bahwa mereka merasakan nyeri. Nyeri dianggap nyata meskipun tidak ada penyebab fisik atau sumber yang dapat diidentifikasi.

Meskipun beberapa sensasi nyeri dihubungkan dengan status mental atau status psikologis, pasien secara nyata merasakan sensasi nyeri dalam banyak hal dan tidak hanya membayangkan saja. Kebanyakan sensasi nyeri adalah akibat dari stimulasi fisik dan mental atau stimulasi emosional. Oleh karena itu, mengkaji nyeri individu mencakup pengumpulan informasi tentang penyebab fisik dan nyeri juga factor mental atau emosional yang mempengaruhi persepsi individu tentang nyeri, intervensi keperawatan diarahkan pada kedua komponen tersebut (Priharjo.R,2002)

Menurut Brunner dan Suddarth tahun 2002, pokok penting yang harus diingat adalah apa yang “ dikatakan “ tentang nyeri adalah tidak pada pernyataan verbal. Beberapa pasien tidak dapat atau tidak akan melaporkan secara verbal bahwa mereka mengalami nyeri. Karenanya perawat juga bertanggung jawab terhadap pengamatan perilaku non verbal yang dapat terjadi bersama dengan nyeri

2. Proses Terjadinya Nyeri

Nyeri diawali sebagai pesan yang diterima oleh saraf –saraf perifer. Zat kimia (substansi p bradikinin, prostaglandin) dilepaskan, kemudian menstimulasi saraf perifer, membantu mengantarkan pesan nyeri dari area yang terluka ke otak, dan menyusun tahap untuk penyembuhan (respon inflamasi). Sinyal nyeri dari area yang terluka berjalan sebagai impuls electrokimia disepanjang nervus kebagian dorsal spinal cord (area pada spinal yang menerima sinyal dari seluruh tubuh). Pesan kemudian dihantarkan ke thalamus, pusat sensoris di otak dimana sensasi seperti panas, dingin, nyeri dan sentuhan pertama kali dipersepsikan. Pesan lalu dihantarkan ke cortex, dimana intensitas dan lokasi nyeri dipersepsikan. Penyembuhan nyeri dimulai sebagai sinyal dari otak kemudian turun kespinal cord. Dibagian dorsal, zat kimia seperti endorphin dilepaskan untuk mengurangi nyeri diarea yang terluka (Carol dan Priscilla,1997).

Didalam spinal cord, ada gerbang yang dapat terbuka atau tertutup. Saat gerbang terbuka, impuls nyeri lewat dan dikirim ke otak. Gerbang juga bisa ditutup, stimulasi saraf sensoris dengan menggaruk secara perlahan didekat area nyeri dapat menutup gerbang sehingga mencegah transmisi impuls nyeri. Impuls dari pusat juga dapat menutup gerbang, misalnya perasaan sembuh dapat mengurangi dampak atau beratnya nyeri yang dirasakan (Patricia dan Walker, 1995).

Nyeri mempunyai fungsi protektif, anak-anak belajar untuk tidak mengulangi perilaku tertentu yang akan menyebabkan mereka terluka dan mengalami nyeri lagi misalnya menyentuh benda yang panas atau tajam. Nyeri hebat pada salah satu bagian tubuh bisa menyebabkan penderitanya mencari bantuan kesehatan untuk mengatasi penyebabnya. Profesi kesehatan menggunakan timbulnya nyeri akut sebagai alat diagnostik, asal dan lokasinya pada beberapa kamus menunjukan kondisi khusus. Perubahan derajat nyeri bisa menjadi indikasi meningkat atau menurunnya penyebab nyeri. Keterampilan perawat dalam mengobservasi bisa membantu manajemen yang efektif (Patricia dan Stanley, 1995).

3. Patofisiologi Nyeri

Menurut Husni Tanra tahun 1997, penelitian laboratorium menunjukan bahwa menyusul suatu trauma atau operasi maka input nyeri dari perifer ke sentral akan mengubah ambang reseptor nyeri baik diperifer maupun disentral ( Kornu posterior medulla Spinalis). Kedua reseptor nyeri tersebut diatas akan menurun ambang nyerinya, sesaat setelah terjadi input nyeri.

Perubahan ini akan menghasilkan suatu keadaan yang disebut sebagai hipersensitifitas baik perifer maupun sentral. Perubahan ini dalam klinik dapat dilihat, dimana daerah perlukaan dan sekitarnya akan berubah menjadi hiperalgesia. Daerah tepat pada perlukaan akan berubah menjadi allodini artinya dengan stimuli lemah, yang normal tidak menimbulkan rasa nyeri, kini dapat menimbulkan nyeri, daerah ini disebut juga sebagai hiperalgesia primer. Dilain pihak daerah sekitar perlukaan yang masih Nampak normal juga berubah menjadi hiperalgesia, artinya dengan suatu stimuli yang kuat, untuk cukup menimbulkan rasa nyeri, kini dirasakan sebagai nyeri yang lebih hebat dan berlangsung lebih lama, daerah ini juga disebut sebagai hiperalgesia sekunder.

Menurut Husni Tanra tahun 1997, kedua perubahan tersebut diatas, baik hiperalgesia primer maupun sekunder merupakan konsekwensi terjadinya hipersensitivitas perifer dan sentral menyusul suatu input nyeri akibat suatu trauma atau operasi, ini berarti bahwa susunan saraf sentral dapat berubah sifatnya menyusul suatu input nyeri yang kontinyu.

a. Respon Lokal

Akibat terjadinya kerusakan sel dalam jaringan. Maka akan terlepas substansi nyeri. Substansi nyeri ini berasal dari tiga tempat yakni, pertama dari kerusakan sel itu sendiri yang akan melepas histamin, kalium, asetilkolin, serotonin, dan ATP. Selain itu terjadi sintesa prostaglandin dari metabolisme asam arakhidonat dengan bantuan siklooksigenase.

Yang kedua, substansi nyeri berupa bradikinin dilepaskan dari plasma darah melalui pembuluh darah yang berubah permeabilitasnya. Yang ketiga, substansi nyeri yang dilepaskan dari ujung-ujung saraf sendiri yang disebut substan P.

Akibat dari terlepasnya substansi nyeri tersebut diatas menyebabkan perubahan-perubahan lokal yang oleh Celcius, seorang dokter jaman Romawi, menyebutkan sebagai tanda-tanda inflamasi berupa kemerahan (rubor), hangat (Calor), pembengkakan (tumor), nyeri (dolor), dan gangguan fungsi (functio laesa). Dalam klinik, perubahan itu tampak sebagai gejala hiperalgesia atau allodini. (Handerworker dan Wolt 1991 dalam Husni Tanra tahun 1997).

Gejala hiperalgesia dan allodini ini menjadi penting dalam klinik, sebab sekali terjadi hal ini dibutuhkan dosis obat analgesik yang lebih tinggi untuk menghilangkannya.

b. Respon Segmental

Input nyeri perifer yang dibawa oleh serabut saraf A delta dan serabut C selain akan mengaktifkan kornu posterior medulla spinalis, juga mengaktifkan kornu anterior dan lateralis dari medulla spinalis yang pada gilirannya akan memberikan respon berupa spasme otot, yang terjadi pada gilirannya menjadi sumber stimuli yang baru sehingga meningkatkan rasa nyeri dan mengakibatkan terjadinya spasme otot yang lebih hebat lagi, jadi merupakan siklus visiousus.

Demikian pula halnya dengan terjadinya spasme pembuluh darah yang menyebabkan iskemia dan hipoksia setempat, yang menimbulkan asidosis. Asidosis pada gilirannya menurunkan ambang nyeri sehingga rasa nyeri makin meningkat dan seterusnys. Selain itu, akibat input nyeri dari kulit, akan merangsang timbulnya refleks kutaneo visceral yang menyebabkan menurunnya aktivitas (peristaltic usus), usus yang mengandung terjadinya ileus pasca bedah. Oleh karena itu tanpa pengelolaan nyeri pasca bedah, penderita cenderung mengalami ileus paralitikus hebat dari tertekannya aktivitas usus, sehingga puasa pasca bedah lebih lama dan proses penyembuhan memenjang (Bonica 1978 dalam Husni Tanra, 1997).

c. Suprasegmental

Menurut Husni Tanra tahun 1997, respon suprasegmental ini bersumber dari stimulasi dan pusat saraf di hypothalamus yang pada gilirannya menimbulkan hiperventilasi atau takipnu dan meningkatkan aktivitas saraf simpatis yang pada gilirannya akan meningkatkan denyut jantung, isi sekuncup jantung, dan curah jantung semenit. Selain itu meningkatkan aktivitas simpatis menyebabkan vasokontriksi dan pelepasan hormon steroid dari glandula suprarenal yang pada gilirannya menimbulkan gejala hipertensi.

d. Respon Kortikal

Respon kortikal merupakan respon psikodinamik seseorang terhadap suatu pembedahan. Hal ini akan menyebabkan terjadinya mekanisme psikodinamik yang akan menghasilkan perasaan cemas, takut dan gelisah. Hal ini akan mengundang umpan balik yang pada gilirannya menurunkan ambang nyeri penderita, sehingga penderita akan merasa lebih nyeri lagi ( Bonica JJ tahun 1991 dalam Husni Tanra, tahun 1997).

Dari keempat respon tubuh diatas dapat disimpulkan bahwa respon tubuh terhadap suatu pembedahan atau nyeri yang akan menghasilkan reaksi endokrin, dan immunologik, yang secara umum disebut sebagai respon stres. Respon stres ini sangat merugikan penderita karena selain akan menurunkan cadangan dan daya tahan tubuh, meningkatkan kebutuhan oksigen otot jantung, mengganggu fungsi respirasi dengan segala konsekwensinya, juga akan mengundang resiko terjadinya tromboemboli yang pada gilirannya meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasca bedah. (Kehelt 1998 dalam Husni Tanra, 1998).

4. Faktor yang mempengaruhi persespsi Nyeri

Saat seseorang mengalami nyeri, banyak faktor yang dapat mempengaruhi nyeri yang dirasakan dan bagaimana cara mereka meresponnya. Faktor tersebut antara lain :

a. Etnik dan Nilai Budaya

Karena norma budaya mempengaruhi sebagian besar sikap, perilaku, dan nilai keseharian kita, wajar jika dikatakan budaya mempengaruhi reaksi individu terhadap nyeri.Bentuk ekspresi nyeri yang dihindari oleh satu budaya mungkin ditunjukan oleh budaya yang lain (Taylor, 1997)

b. Umur

Usia dan tahap perkembangan seseorang merupakan variable penting yang akan memengaruhi reaksi dan ekspresi terhadap nyeri. Dalam hal ini, anak-anak cenderung kurang mampu mengungkapkan nyeri yang mereka rasakan dibandingkan dengan orang dewasa, dan kondisi ini dapat menghambat penanganan nyeri untuk mereka. Disisi lain prevalensi nyeri pada individu lansia lebih tinggi karena penyakit akut atau kronis yang mereka derita. Walaupun ambang batas nyeri tidak berubah karena penuaan.( Perry & Potter, 1997 ).

c. Lingkungan dan dukungan orang terdekat

Banyak orang yang merasakan, lingkungan pelayanan kesehatan yang asing khususnya cahaya, kebisingan, aktivitas yang sama diruang perawatan intensive, dapat menambah nyeri yang dirasakan. Beberapa klien menggunakan nyerinya untuk memperoleh perhatian khusus dan pelayanan dari keluarganya.(Perry & Potter, 2007).

d. Kecemasan dan stressor lain

Nyeri biasanya bertambah parah saat cemas, otot menegang dan kelelahan muncul. Studi menunjukan bahwa klien yang diajarkan sebelum operasi tentang apa yang dihadapi setelah operasi, tidak membutuhkan analgetik sebanyak orang-orang yang menjalani prosedur operasi yang sama tapi tidak diberikan pendidikan sebelum operasi.(Carol dan Priscilla, 1997).

e. Pengalaman Nyeri Yang Lalu

Beberapa klien yang tidak pernah mengalami nyeri hebat, tidak menyadari seberapa hebatnya nyeri yang akan dirasakan nanti, umumnya, orang yang sering mengalami nyeri dalam hidupnya, cenderung mengantisipasi terjadinya nyeri yang lebih hebat (Carol dan Priscilla, 1997).

f. Nilai Agama

Pada beberapa agama ,individu menganggap nyeri dan penderitaan sebagai cara untuk membersihkan dosa. Pemahaman ini membantu individu menghadapi nyeri dan menjadikan sebagai sumber kekuatan (Taylor ,1997)

5. Mengkaji Persepsi Nyeri

a. Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri .( Tamsuri, 2007)

Menurut Smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :

1 . Skala intensitas nyeri deskriktif



















1 2 3 4 5

Tidak Nyeri ringan Nyeri Nyeri berat Nyeri Tidak

Nyeri Sedang terkontro Terkontrol

2 . Skala identitas nyeri numeric















































0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tidak nyeri Nyeri sedang nyeri

Hebat

3. Skala Analog Visual




Tidak Nyeri

Nyeri sangat

Hebat

  1. Skala Nyeri menurut Bourbanis



































































































Keterangan :

· 0 : Tidak Nyeri

· 1-3 : Nyeri Ringan (Secara objektif klien dapat berkomunikasi dengan baik)

· 4-6 : Nyeri Sedang (Secara objektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.

· 7-9 : Nyeri Berat (Secara objektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi.

· 10 : Nyeri Sangat Berat ( Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.

Skala Deskriktif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala pendeskripsi verbal, merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama disepanjang garis.Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Skala analog visual (Visual analog scale,VAS) tidak melebel subsidi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan mendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini member klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian. (Potter, 2005)

Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkonsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskriktif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

b. Karakteristik Nyeri

Menurut Brunner dan Suddarth, tahun 2002,alat-alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk mengkaji persepsi nyeri seseorang. Agar alat-alat pengkajian nyeri dapat bermanfaat, alat tersebut harus memenuhi kriteria berikut : (1) Mudah dimengerti dan digunakan, (2) Memerlukan sedikit upaya dengan pihak pasien, (3) Mudah dinilai, dan (4) Sensitif terhadap perubahan kecil dalam intensitas nyeri. Alat-alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk mendokumentasikan kebutuhan intervensi, untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan untuk mengidentifikasi kebutuhan akan intervensi alternatife dan tambahan jika intervensi sebelumnya tidak efektif dalam meredakan nyeri individu.

Nyeri sukar digambarkan, saat pasien mengeluh nyeri, dengarkan (lakukan sesuatu) karena nyerinya adalah apa yang ia rasakan meskipun ia mungkin kesulitan menggambarkannya. Observasi objektif yang bisa ditemui yakni (Brunner dan Suddarth,2002)

1) Kulit menjadi pucat, dingin dan lembab saat nyeri hebat dan lama

2) Ekspresi wajah kening mengernyit, mulut dan gigi terkatup rapat, pasien mungkin meringis.

3) Mata tertutup rapat atau terbuka, pupil mungkin dilatasi

4) Nadi mungkin meningkat atau menurun dengan beragam intensitas

5) Perspirasi,frekwensinya meningkat dan berubah karakternya

C.Strategi Penatalaksanaan Nyeri

Strategi penatalaksanaan nyeri mencakup baik pendekatan farmakologis dan Non farmakologis. Pendekatan ini diseleksi berdasarkan pada kebutuhan dan tujuan pasien secara individu. Semua intervensi akan sangat berhasil bila dilakukan sebelum nyeri menjadi lebih parah, dan keberhasilan terbesar sering dicapai jika beberapa intervensi diterapkan secara simultan. (Brunner dan Suddarth)

Tujuan utama dari suatu pengelolaan nyeri pasca bedah adalah selain untuk memberi kenyamanan (Tanpa nyeri = pain free) terhadap penderita juga untuk mencegah terjadinya respon stress (stres free) guna mencegah terjadinya komplikasi yang pada gilirannya dapat mempercepat penyembuhan, memendekan waktu hospitalisasi dan menekan biaya. (Kehelt H 1996 dalam Husni Tanra, 1997)

a. Intervensi Farmakologis

Menangani nyeri yang dialami pasien melalui intervensi farmakologis dilakukan dalam kolaborasi dengan dokter atau pemberi pelayanan lainnya pada pasien. Obat-obat tertentu untuk penatalaksanaan nyeri mungkin diresepkan atau kateter epidural mungkin dipasang untuk memberikan dosis awal (Brunner dan Suddarth, 2002)

Meskipun pengobatan untuk penyembuhan nyeri adalah alat yang penting, tapi itu bukanlah satu-satunya jalan untuk mengatasi nyeri. Perawat yang baik secara cermat akan mengkaji pasien dan mencari penyebab masalahnya. (Janice dan Elizabeth, 1985)

b. Intervensi Non Farmakologis

Penatalaksanaan Non farmakologis terdiri dari berbagai tindakan penanganan nyeri berdasarkan stimulasi fisik maupun perilaku kognitif. Contoh dari penanganan fisik adalah stimulasi kulit salah satunya yaitu dengan cara kompres menggunakan kantong es. yang fungsinya adalah untuk menghilangkan nyeri. Cara kerja khusus stimulasi kulit masih belum jelas. Salah satu pemikiran adalah bahwa dengan cara ini menyebabkan pelepasan endorfin, sehingga memblok transmisi stimulus nyeri (Meek, 1993 dalam Potter dan Perry 2006)

B. Kerangka Kerja Penelitian

1. Kerangka Konsep

Peningkatan sensasi nyeri merupakan masalah yang sering dijumpai pada pasien yang baru saja mengalami operasi. Bila sensasi nyeri tidak ditangani dengan benar akan mengakibatkan timbul berbagai komplikasi yang dapat terjadi misalnya saja terjadinya gangguan pada penderita itu sendiri. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk penurunan sensasi nyeri dan salah satunya adalah pemberian kompres dingin. Penatalaksanaan pada penurunan sensasi nyeri yang dapat dilakukan meliputi penatalaksanaan non farmakologis dan farmakologis. Kompres dingin merupakan salah satu bentuk non farmakologis dan tindakan ini merupakan tindakan mandiri perawat yang perlu dipertimbangkan terutama pada pasien yang baru saja dioperasi.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka dirumuskan kerangka kerja penelitian sebagai berikut :

Intensitas Nyeri Post Test

Intensitas Nyeri Pre Test

Dependent



Independent


Oval: Tingkat NyeriOval: Kelompok Perlakuan

















Oval: Tingkat Nyeri

Tidak dilakukan

kompres

Oval: Kelompok Kontrol












Text Box: • Usia • Jenis kelamin • Budaya • Analgetik  •



Variabel Perancu


2. Defenisi Operasional

a.Kompres Dingin

Yang dimaksud dengan kompres dingin dalam penelitian adalah meletakkan kompres diarea sekitar luka dengan menggunakan kantong es yang suhunya berkisar antara 12 - 18 derajat celcius, diberikan pada 12 - 24 jam pertama pada daerah sekitar luka operasi. selama 15 – 20 menit perhari dengan cara :

Membuat butiran- butiran es batu yang dimasukkan kedalam handuk tipis kemudian masukan dalam plastik tertutup.

b. Sensasi Nyeri

Yang dimaksud dengan nyeri dalam penelitian adalah tingkat nyeri yang didapat dari klien dengan mengobservasi dan mengukur dengan cara skala analog (Smeltzer 2007). Nyeri yang diukur sebelum dan setelah tindakan kompres dengan kriteria evaluasinya :

1 = Tidak nyeri

2 = Nyeri ringan

3 = Nyeri sedang

4 =Nyeri Berat

5 = Sangat Berat

Dikatakan ada pengaruh jika terjadi penurunan satu poin dari nyeri yang dirasakan sebelum dilakukan kompres, dan dikatakan tidak ada pengaruh jika nyeri tetap atau terjadi peningkatan pada saat setelah dilakukan kompres.

3. Hipotesis Penelitian

1. Hipotesis Nol (Ho)

Tidak ada pengaruh kompres dingin terhadap penurunan sensasi nyeri pada pasien post operasi Ruang Perawatan Bedah RSUD Labuang Baji Makassar.

2. Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada pengaruh kompres dingin terhadap penurunan sensasi nyeri pada pasien post operasi Ruang Perawatan Bedah RSUD Labuang Baji Makassar tahun 2009.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen (eksperimen semu), dimana kelompok eksperimental diberikan perlakuan kompres dingin sedangkan kelompok kontrol tidak. Pada kedua kelompok diawali dengan pre tes,dan setelah pemberian perlakuan pada kelompok eksperimental diadakan pengukuran nyeri kembali (post tes), begitu juga pada kelompok yang tidak diberikan perlakuan.

Subyek

Pre Test

Perlakuan

Post Test

Kasus

Kontrol

0

0

X

-

0

0

Keterangan

Pre Test : Sebelum Perlakuan

Perlakuan : Kompres dingin selama 2 hari pada 12 -24 jam pertama

Post Test : Setelah adanya perlakuan dengan kompres dingin selama 2 hari setelah operasi

B. Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi adalah seluruh pasien post operasi yang dirawat diruang Perawatan Bedah RSUD Labuang Baji Makassar.

b. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien post operasi laparatomi yang dirawat diruang Perawatan Bedah RSUD Labuang Baji dengan tehnik pengambilan sampel adalah Convinience sampling dengan cara mencari subjek atas dasar hal-hal yang menyenangkan atau mengenakkan peneliti.

Sampel pada penelitian ini adalah pasien pasien bedah laparatomi yang dirawat di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Umum daerah Labuang Baji Makassar.

Adapun kriteria sampel adalah sebagai berikut :

1. Kriteria inklusi meliputi :

a. Pasien yang dalam keadaan sadar

b. Pasien yang dapat diajak komunikasi

c. Pasien yang pertama kali dilakukan pembedahan

2. Kriteria Eksklusi Meliputi :

a. Pasien yang tidak dapat diajak komunikasi

b. Pasien yang telah dibedah 2 hari sebelum penelitian berlangsung

C. Pengumpulan Data

1. Data primer diambil dengan cara :

1. Melakukan observasi berdasarkan kompres dingin yang dilakukan pada pasien dalam hal ini observasi dilakukan atau tidak dilakukannya kompres dingin pada kelompok kontrol (X) dan kelompok kasus (Y).

2. Setelah pengumpulan data yang diperoleh dari hasil lembar observasi yaitu intervensi kompres dingin selama 2 hari berturut-turut.

3. Hasil yang telah didapat kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi disertai narasi

2. Data Sekunder diperoleh dari instansi terkait, arsip-arsip serta beberapa dokumen pendukung

D. Alur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Mengidentifikasi tempat penelitian

b. Mengajukan surat permohonan ijin penelitian dari institusi FIK UIT Kepada direktur RSUD Labuang Baji mendapatkan izin penelitian

c. Setelah memperoleh surat penelitian, peneliti memilah dan memisahkan pasien yang dapat disertakan dalam kelompok kasus maupun kelompok kontrol

d. Melakukan pendekatan pada pasien dan tetap menjaga harga diri pasien

e. Dengan menggunakan alat bantu skala deskriktif penilaian tingkatan nyeri, maka peneliti melakukan penelitian sebagai penelitian pre test, dengan menilai tingkatan nyeri secara objektif

f. Melakukan tindakan kompres dingin pada kelompok kasus selama 2 hari setelah pembedahan dengan waktu pemberian kompres adalah 15-20 menit sekali

g. Mencatat kembali respon pasien setelah 2 hari perlakuan dengan menilai tingkatan nyeri secara objektif pada pasien kasus dan kelompok kontrol

G. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala pendeskripsian verbal (Verbal Descriptor Skale,VDS). Adapun observasi respon pasien ditinjau dari perhatian, ansietas, prespirasi, suara, ketegangan otot dan ekspresi wajah.

H. Pengolahan dan Penyajian Data

Pada pasien yang dalam keadaan sadar, kemudian dilakukan pengukuran intensitas nyeri sebelum dilakukan kompres dingin dengan menanyakan bagaimana rasa nyeri yang dialami oleh pasien. Dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama kemudian lakukan intervensi dengan kompres dingin.

Pengolahan dan penyajian data dilakukan dengan menggunakan kalkulator dan program komputer SPSS Versi 11,5 yang akan dipaparkan dalam bentuk tabel dan narasi

I. Pengujian Hipotesis

Hipotesis yang diuji adalah Ha dengan batas confidence level yang dipilih adalah 95 % sedangkan uji statistik yang digunakan adalah Kolmogorov – Smimov Test. Dengan asumsi bahwa Ha diterima jika ada perbedaan yang signifikan antara pre test dan post test. Tingkat kemaknaan (a) : 0,05 dan analisa dengan SPSS 11,5 H.

J. Masalah Etika Penelitian

Kepada setiap pasien yang akan dilakukan dalam penelitian ini diberikan penjelasan dan tujuan serta diminta kesediaannya untuk persetujuan secara tertulis dan selalu mengindahkan tata cara etika yang berlaku meliputi :

1. Informed Consent (Lembar persetujuan)

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi disertai judul penelitian, manfaat penelitian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar